HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Kamis, 23 Februari 2012

(belum ada judul)

oleh : Dyah Putri, Linda Uji

Tokoh:
1.       Rena
2.       Delima
3.       Suster 1
4.       Dokter Irawan
5.       Ibu Delima
6.       Adik Delima

Matahari  terik seperti umumnya di musim  kemarau. Menyinari  kota-kota  ,menyinari desa-desa. Perkantoran, perkebunan, pasar, alun-alun, tempat peribadatan, juga rumah sakit khusus penderita kelainan jantung ini  yang tak luput dari incaran sinar matahari. Disini,hari-hari pasiennya seperti menunggu ajal, makan, tidur, periksa, dan sesekali menyasali hidup mereka yang tak sempurna. Tentu tidak semua pasien  hanya berpasrah saja, contohnya adalah Rena yang berhasrat ingin sembuh  meski sudah tujuh tahun menunggu pendonor yang pas bagi  jantungnya di rumah sakit ini. Ia tak seperti  yang lain dalam penantian, secara fisik  ia adalah remaja  yang bersemangat dalam  menjalani kehidupan. Belajar, berkarya, berangan, dan bercita-cita, beda halnya dengan Delima, semua serba ada namun tiga tahun di rumah sakit ini laksana penjara. Rena dan Delima ini seumuran, kamarnya pun tak berjauhan. Hanya tembok bata yang menjadi pembatasnya.
SCENE  1 (di sebuah taman rumah sakit)
Rena  : (MENGGAMBAR HATI YANG HAMPIR JADI) “Delima look at  here!” (SUMRINGAH)
Delima : (MENOLEH SEKILAS,MENGHELA HAPAS). “hemmb?”
Rena : ”ihh kok kamu gitu sih?” (SEBEL)
                “this is my heart, although my core is hurt, but it’s still perfect’”
Delima : (TATAPAN KOSONG,MELAMUN,TIDAK MENGHIRAUKAN APA YANG DI KATAKANA RENA)
 “maksud kamu apa sih? To the poit aja napa?”
Rena :  (MENDEKATI DELIMA) “kamu tau nggak…”
Delima: (MEMOTONG PEMBICARAAN RENA DENGAN CEPAT)”enggak, kamu tau? (CUEK)
Rena: (SEDIKIT SEBEL) “hish..kamu. Jadi gini, manusia itu bisa hidup dengan satu ginjal, satu kaki, satu tangan, bahkan manusia bisa hidup dengan hati yang sempurna meski jantungnya cac…….”
Delima : “tapi manusia itu nggak bisa hidup bebas tanpa jantung yang  sempurna!”(BERNADA TINGGI)
Rena : (KALEM) “Delima, nggak ada manusia yang sempurna kali..”
Delima : “iya aku tau Ren. Tapi kenapa penyakit sialan ini lebih milih aku? Aku punya semuanya kok. Kalo penyakit ini bisa ditebus, pasti udah ditebus sama ayah.” (SINIS)
Rena : (DIAM)
Delima : “kenapa? Baru sadar kan kamu kalo penyakit sial ini membunuh kita dua kali. Selama di dunia, dan ketika kita memasuki akhirat. Jadi buat apa tiap hari kamu berdoa sama Tuhan? Minta sembuh? Buat apa kamu tiap hari belajar? Biar pinter? Pengen jadi presiden? Kalo udah jadi  baru mati. Kasian… Cuma usaha , dapet hasil tanpa kepuasan.” (MEROBEK GAMBAR RENA LALU PERGI)
Rena : (MENANGIS, DUDUK SENDIRIAN DI TAMAN.)
Suster 1 : “Rena,” (MENGHAMPIRI RENA ) “kamu Ini, suster cariin. Sudah di Tunggu  dr. Irawan di kamar kamu.”
Rena : “baik suster “ ( MENYEKA AIR MATANYA)
Suster 1: “kamu menangis, sayang? Ada apa?”
Rena : (MEMANDANG SUSTER LALU PERGI)
                Rena begitu hening saat ini, ia benar-benar memikirkan perkataan Delima. Ia benar, penyakit yang tujuh tahun belum sembuh juga ini hampir membuatnya putus asa. Seberapa lama lagi ia harus menunggu penantian yang tak pasti. Berapa hari lagi ia harus belajar banyak hal tanpa menuliskannya di lembar tes, atau bahkan ujian untuk mendapat nilai. Berapa gambar hati lagi yang harus ia gambar agar ia tetap yakin kesembuhannya, agar ia tetap menerima ketidak sempurnaannya.
SCENE 2 (KORIDOR, DEPAN KAMAR DELIMA)
                Rena menghentikan cepat langkahnya dan berhenti tepat di kaca pintu kamar Delima. Ia meihat kedalamnya.
Ibu : “apa kabar sayang? Maaf ibu baru datang siang ini. Tadi pagi harus menemani ayah ke resepsi anak sahabatnya.”
Adik : “kakak udah makan?”(CERIA)
Delima : “belum” (TANPA MENOLEH. IA ASIK MENERAWANG JAUH KE LANGIT LEPAS)
Adik : “bagus! Ini aku belikan ayam bakar kesukaan kakak. Oh ya ayah bilang….”
Delima : (MEMOTOG PERKATAAN ADIKNYA ) “maafin ayah nggak bisa jenguk kakak. Ayah sangat sibuk melayani clientnya dari Sabang sampai Merauke.” (SENYUM SINIS)
Ibu : (MENGELUS RAMBUT  DELIMA,NAMUN DELIMA MENGHINDAR) “maafkan ayahmu nak.”
Deima :  “ sudahlah bu. Aku capek dengar kata maaf itu. Aku juga sangat mengerti keadaan ayah karena ia bukan miik keluarga kita saja. Ia milik pegawainya, milik clientnya, milik semua orang yang berhubungan dengannya.” (MEMANDANGI MATA IBU DAN ADIKNYA)
                Akhirnya,senyum Delima keluar dari persembunyiannya. Dipeluklah Delima oleh ibu dan adiknya.
Adik : “kakak jangan takut disini sendirian. Aku, Ibu, terkadang ayah pasti akan sering-sering berkunjung untukmu. Membawaka ayam bakar, kue coklat, ice cream untukmu. (SEMUA TERSENYUM, IBU TERHARU DAN TERTAWA KECIL.)
Keadaan saat itu berubah menjadi hangat, suasana kekeluargaan yang tercipta membuat air mata Rena mengucur deras dari balik pintu. Sebuah suasana yang amat diimpikannya. Melihat Delima memiliki semuanya, bercanda dengan adik dan ibunya ketika ia cacat jantung  sudah tiga tahun, sangat membuatnya iri. Jangankan bercanda dengan keuarga, ibunya siapa pun ia tak tahu. Apalagi ayahnya yang berengsek itu meninggalkan ibunya ketika tau ia hamil. Ia meminta ibu Rena untuk menggugurkan kandunganya, bahkan hingga tiga kali namun tetap gagal, itu semua cerita singkat tulisan ibunya sebagai satu-satunya harta peninggalan orangtuanya. Lebih tragisnya lagi bukan sang ibu sendiri yang menyerahkan sepucuk surat itu pada Rena, melainkan pihak panti asuhan dulu ia dititipkan. Saat itu tepat Rena berulang tahun ke 13 di rumah sakit, dua orang dari sebuah panti asuhan datang untuk memberikan kado beserta titipan ibunya tersebut. Saat itu pula Rena lupa bahwa ia harus menemui dr. Irawan untuk diperiksa. Dan tanpa sengaja dr. Irawan sendiri lah yang menemukan Rena di depan kamar Delima. Kedatangan dr. Irawan ternyata juga tidak disadari oleh Rena.
dr. Irawan  : “Rena, kamu darimana saja? Sudah dokter tunggu dari tadi lho.”
Rena : (TERKEJUT) “ma…ma..maaf  Dok.” (MENGUSAP AIR MATA)
Dr.Irawan : “kamu kenapa  menangis?” (tak berapa lama, dr.Irawan dan Rena sama-sama melihat ke dalam kamar Delima. dr.Irawan tau apa yang ada di pikiran Rena). “Rena ,” (MEMEGANG PUNDAK RENA) “manusia itu tidak ada yang sempurna,maka dari itu ,manusia tidak pernah puas dengan apa yang ia miliki. Dokter tau, saat ini kamu ingin jadi seorang Delima, dan meninggalkan Rena yang sekarang. Percayalah, Delima juga seperti itu. Bahkan mungkin ia tidak percaya diri dengan apa yang ia miliki sehingga ia juga tidak PD bahwa dirinya  juga bisa sembuh. Delima bahkan tak memiiki semangat ingin sembuh sepertimu, sekali pun ia kaya, sekali pun ia punya keluarga, tapi semua sia-sia. Ia tak bahagia. Ia tetap tidak bahagia .” (dengan nada tegas meyakinkan Rena. Rena tersenyum dan memeluk dokter. Kini merasa lebih tenang)
Dr.Irawan : (MELEPAS PELUKAN RENA PERLAHAN) “sudah bisa mulai periksa sekarang?”
Rena : (MENGANGGUK TERSENYUM DAN BERJALAN BERSAMA DR.IRAWAN  MENUJU KAMARNYA)
                Siang itu bangga rasanya seorang dr.Irawan  yang berhasil mengatasi emosi satu-satunya  pasien yang ia sayangi. Yang ia anggap setara dengan anak-anaknya, semua suster dan perawat  tau itu. Bahkan kabarnya, Dr.Irawan akan mengangkat Rena menjadi anaknya sebagai hadiah kesembuhannya bila dia sudah mendapatkan donor jantung. Tentu Rena tidak tau soal itu, karena dr. Irawan berniat memberi kejutan. Mungkin kejutan besar bagi Rena, sebuah keluarga kecil yang ia impikan selama 17 tahun.
SCENE 3 (MALAM HARI, DI KAMAR DELIMA)
                Hembusan angin musim kemarau ini sangat halus menyapu kulit Rena, bintang- bintang berdesakan di gelapnya malam. Bulan tampak separuh, namun tetap menawan. Gambaran –gambaran awan dan citrusnya sedikit terlihat di sekitar bulan. Rasanya seperti akan siang lagi, namun baru pukul  sepuluh malam.
Rena : (BERJALAN MENUJU KAMAR DELIMA, DAN MENGETUK PINTUNYA). “Delima? Boleh masuk?”
Delima : “lakukanlah seperti biasanya.” (DELIMA  MENYAMBUT  RENA DENGAN SENYUMAN).
Rena : (DUDUK DI KURSI DEKAT  TEMPAT TIDUR DELIMA) “kamu kok belum tidur?”
Delima : “hemb..hemb..” (MENGGELENGKAN KEPALANYA) “Rena maafin aku ya. Tadi udah ngerobek gambar kamu, padahal bagus banget.”
Rena : “iya aku nggak papa kok. Kamu suka? Nanti aku buatin lagi deh buat kamu.” (SENYUM)
Delima : “iya makasih ya ren, oh ya… kok kamu belum tidur juga?”
Rena : “malam ini indah banget, kayaknya bakalan rugi deh kalo aku tidur sekarang.” (tertawa bersama) “tadi keluarga kamu kesini ya?”
Delima : “iya, cuman ibu dan adikku, kok kamu tau?”
Rena : (diam sejenak, suasana menjadi hening) “iya ,tadi aku lihat pas lewat depan kamar kamu.”  (rena tersenyum palsu).
Delima : “Rena,kamu kenapa? Kata –kataku ada yang salah ya? Aduh aku minta maaf ya.” (mengelus pundak Rena)
Rena : “enggak kok, Del.” (mencoba tersenyum,namun susah. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari Ibunya, dan memberikanya pada Delima).
Delima : (mengambil surat dari tangan rena) “apa ini? Boleh aku baca?”
Rena : (mengangguk pelan)
Malam ini begitu tenang, angin, bintang, rembulan, juga Rena setia menunggu Delima yang sedang membaca surat peninggalan dari ibu Rena. Diputarlah sebuah lagu dari Handphone milik Rena untuk menemaninya menunggu Delima.
“Ku buka album biru, penuh debu dan usang. Ku pandangi semua gambar diri putih bersih belum ternoda. Tangan halus nan suci…”
 Lagu milik Melly Goeslaw itu nyaris tak terdengar lagi oleh Delima karena sedang serius membaca surat milik Rena. Kantung matanya mulai penuh seolah ingin memuntahkan semua air yang terbendung di dalamnya. Dengan satu kedipan saja, dua tetes air mata dari sumbernya meluncur dari matanya yang besar.
Semarang, 2 Februari 1995
Untuk anakku sayang, Rena Aprillia,
Selamat datang ke dunia, Nak! Maaf, mama harus pergi. Bukan inginya mama membiarkan kamu sendirian dalam gelapnya malam, justru mama ingin  menemani tidurmu setiap malam itu. Bukan inginya mama melewatkan pertumbuhanmu setiap hari, justru mama lah yang ingin memupukmu agar tumbuh subur, besar, hingga berbunga indah.
Maafkan mama yang melahirkan kamu dengan kondisi yang tidak sempurna, itu semua salah mama, Nak! Betapa kejamnya mama yang ingin membunuhmu ketika masih di dalam perut mama. Hingga tiga kali mama mencobanya, tapi mama sadar bahwa kamu terlalu kuat untuk mama lawan. Maafkan mama sayang, ketahuilah itu semua bukan semata-mata inginya mama. Saat itu ayahmu belum siap menerima kehadiran kita di keluarganya, jadi ia ingin mama menggugurkan kamu. Awalnya mama sangat takut sayang, mama takut…takut pada Tuhan, juga takut sama Rena. Mama tau, Rena pasti bakal marah.
Sudah begitu banyak badai mama taklukan untukmu, namun ayahmu lebih kuat dari mama. Dialah pencipta badai itu, dia tak mau menghentikan badainya sebelum salah satu dari kita pergi. Mungkin kini ayah bahagia sayang, kamu pergi menjauhinya begitu juga dengan mama yang pergi dengan beribu tusukan luka di dada karenanya. Meski mama berjuang sndirian melahirkanmu, namun mama sangat bangga kepadamu, dapat terlahir ke dunia dengan selamat dan amat cantik.
Maafkan mama, sayang…mama harus pergi sekarang. Meskipun mama juga tak tau harus kemana, biarkan langkah kaki ini yang membawa mama, dan suatu saat kaki inilah yang akan membawa mama kepadamu untuk kebahagiaan. Sengaja mama tidak mengajakmu, karena kini kau sangat lemah. Lagipula tak mungkin mama mengajakmu menerjang ombak dalam samudra kehidupan yang amat luas dan keras ini. Kita bukan karang, sayang! Meski bukan karang, namun kamu harus seperti bunga Dandelion. Yang mampu hidup dimana saja, dengan kondisi apa saja. Di pinggir jalan, di tengah hutan, bahkan di sela-sela rel kereta api. Ia akan tetap hidup meski hanya sebatang bunga kecil.
kata mereka diriku s’lalu dimanja, kata mereka diriku s’lalu ditimang. Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku…”
Delima tak mampu melanjutkan bacaanya, hingga ia tersadar sebuah lagu yang Rena putar sudah hampir selesai. Delima menangis, menangis dalam pelukan Rena.
Delima: (MENANAGIS) “harusnya aku sadar, meski ayah sibuk dan tak sempat menjengukku paling tidak aku masih punya keluarga. Ibu, juga adikku.”
Rena: (MENGANGGUK PELAN MASIH DALAM PELUKAN DELIMA) “harusnya kita bersyukur meski lelah menunggu datangnya mukjizat Tuhan dalam pesakitan, tapi kita masih bisa bertemu dan saling mengasihi.”
Delima: (MELEPAS PELUKAN PERLAHAN) “harusnya aku bersyukur, meski lelah dengan semua celotehmu yang berlebihan setiap hari, paling tidak aku masih punya kamu yang selalu ada di sisiku. Seorang pasien yang ingin hidup seribu tahun lagi meski sudah tujuh tahun terpenjara di Azkaban ini.” (TERTAWA KECIL, BERPELUKAN LAGI)



bersambung...

Selasa, 14 Februari 2012

Facebook Milik Tuhan

oleh, Linda


Katanya, ini facebook milik Tuhan
Kalian tau, lama sudah aku mengagumi-Nya
Ku tambahkan Ia sebagai temanku, lekas diterima
Ku tambahkan Ia agar berhubungan dekat denganku, lekas diterima
Bahagianya aku mendapat respon sekilat itu, ku semakin yakin itulah Kau Tuhan
Aku yakin, ini memang facebook milik Tuhan
Setiap hari ku buka profilnya,
Ku colek Dia agar tau bahwa setiap itulah aku mengingatnya, sekalipun harus mencari-Nya di daftar pencarian dari ribuan teman facebookku
Ku tulis sesuatu di dindingnya untuk menyapa, “Assalamu’alaikum Ya Rabbi…”
Ku kirim pesan pribadi padanya berisi curahan hati dan keluh kesah masalahku ketika ku sadar Kaulah yang mampu meresponku secepat kilat
Karena aku tak sabar untuk menunggu, karena ku tak sabar untuk bersabar
Tapi, apa benar itu facebook Tuhan?
Karena seperti tak ada tanda kehidupan disana
Dindingku yang tak terbalas olehnya
Colek balik yang tidak aku terima darinya
Atau bahkan kalimat-kalimat yang mampu ku eja dari semua keluh kesah curahan hati pada pesan pribadiku pada-Nya sebagai balasan dari itu semua
Aku bingung ya Tuhan…
Harus berbuat apa melalui facebookmu agar kau merasakan adanya aku, mengenal aku dekat, dan dengan kilat meresponku seperti waktu dulu
Engkau dimana ya Tuhan?
Ketika aku mengisak sembari mengupdate statusku, berharap Engkau akan mengomentarinya dengan berbagai saran dan solusi
Nyatanya tak kutemukan facebookmu berkomentar dari sekian orang yang mengomentarinya
Kenapa malah orang-orang tak ku kenal memberikan saran yang hebat padaku
Ku katakan, “terimakasih semuanya”
Mereka katakan, “Tuhan mengirimkan kami untukmu…berterimakasih lah pada-Nya”
Terima kasih, ya Tuhan…aku tau, itu memang benar facebook milik Tuhan